Shalom International Fellowship - GBI Damai Sejahtera

welcome home



Berlari Kepada Tuhan

by Rev. Dr. Paul Sene

Apakah anda pernah mendengar mengenai Elia, nabi Tuhan yang besar? Komitmennya kepada Tuhan tidak perlu dipertanyakan lagi. Seorang nabi Tuhan yang luar biasa, Tuhan memakai perkataannya Elia untuk menghentikan dan menurunkan kembali hujan, untuk melipatgandakan makanan bagi seorang janda dan membangkitkan anak dari janda itu.

Kita akan melihat mengapa Nabi yang besar ini harus berakhir di dalam padang gurun. Kejadian mengenai hal ini dapat ditemukan di 1 Raja-raja 18:20-45. Elia baru saja mengalami kemenangan yang supernatural di Gunung Karmel. Di sana Elia menantang 450 nabi Baal yang menentangnya untuk membuktikan tuhan siapa yang hidup. Mereka membuat mezbah, menaruh korban persembahan di atasnya dan nabi-nabi penyembah berhala itu berdoa sepanjang hari, namun tidak dapat menurunkan api di altarnya. Ketika tiba giliran Elia, dia malah menuangkan air di atas persembahannya. Lalu Tuhan langsung menjawab doa Elia yang sederhana itu, dengan membakar bukan hanya korban yang ada di atas mezbah yang dibasahi, tetapi juga membakar batu-batu yang ada di altar itu! Rakyat bersujud sampai mukanya ke tanah dan mengakui, “TUHAN, Dialah Allah!” Dengan perintah Elia, mereka menangkap nabi-nabi penyembah berhala itu dan membunuhnya.

Setelah bangsa Israel kembali pada Tuhan, Elia memanggil hujan untuk kembali. Setelah tiga tahun masa kekeringan hujan turun kembali! Apa yang Elia alami adalah hal menakjubkan. Api yang turun dan membakar korban adalah mujizat yang tidak hanya membuktikan bahwa Allah Israel adalah Allah yang hidup yang harus mereka taati dan layani, tetapi itu juga membuktikan bahwa Elia adalah seorang Nabi Tuhan. Di samping itu, dia dipakai Tuhan untuk memanggil kembali hujan yang telah terhenti selama tiga tahun - sungguh hal yang tidak dapat dibayangkan!

Kita dapat melihat bahwa Elia tidak kompromi dalam sikapnya, ia penuh keberanian dan begitu yakin dalam Tuhannya. Imannya dalam Tuhan tidak ada yang menyamainya di zamannya.

I Raja-raja 19:1-3 1 Ketika Ahab memberitahukan kepada Izebel segala yang dilakukan Elia dan perihal Elia membunuh semua nabi itu dengan pedang, 2 maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: “Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu.” 3 Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana.

Raja Ahab memberitahukan istrinya Ratu Izebel bagaimana Elia menurunkan api di Gunung Karmel. Izebel tidak takut melainkan sangat marah dengan Elia karena dia telah membunuh semua nabi-nabinya. Ratu yang jahat ini bersumpah untuk membunuh Elia di keesokan harinya.

Mendengar hal yang menakutkan ini, Elia mendadak menjadi panik akan teror itu. Di tengah kepanikan itu dia tampaknya lupa bagaimana Tuhan telah memakainya untuk melakukan mujizat. Ketakutan menguasainya dan dia lari menyelamatkan diri. Dapatkah anda mempercayai hal ini? Nabi besar yang telah memanggil api turun dari sorga, membunuh 450 nabi penyembah berhala, menghentikan hujan dan menurunkan hujan kembali, yang telah membangkitkan orang dari mati, sekarang melarikan diri untuk menyelamatkan nyawanya?

Elia segera meninggalkan Israel dan mengakhiri di padang gurun Yehuda. Hal ini mengingatkan kita bahwa meskipun kita melakukan hal yang benar dan tidak berbuat dosa serta berbicara sesuai dengan firman Tuhan, kita masih bisa disalah-artikan, dan diperlakukan dengan salah. Bisa saja orang tidak suka dengan apa yang kita lakukan dan terkadang menyerang kita dengan berbagai cara. Sama seperti Elia yang lari, orang pada umumnya cenderung lari dari situasi mereka daripada mereka berlari ke Tuhan. Inilah reaksi pertama dari banyak orang yang merasa tidak sanggup lagi menghadapi tekanan dalam hidup dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kadang kala mereka tidak sanggup menghadapinya lagi sehingga mereka lari dari kenyataan. Orang mencoba lari dari kenyataan dengan terus pergi berbelanja, pergi berlibur, makan berlebihan, tidak makan, mengunci diri di dalam kamar, bermain games di komputer atau nonton TV sepanjang hari.

Bila hal ini yang anda lakukan sekarang, saya hendak memberitahukan kepada anda: jangan lari kemanapun selain kepada Tuhan. Tuhan anda dekat pada diri anda. Larilah kepadaNya, berserulah kepadaNya. Kala kita diserang, diancam, ditentang atau ditekan untuk melakukan kebenaran, jangan menyerah. Mari kita berdiri teguh dengan mengetahui bahwa Allah yang kita layani melihat segala sesuatu, tahu segala sesuatu dan Dia mengendalikan segalanya. Apapun yang kita hadapi, kita dapat berlari pada Tuhan perlindungan, kota benteng dan kekuatan kita.

1 Raja-raja 19:4 Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.”

Elia lelah dengan perjalanan yang panjang dan berat itu. Karena diselimuti oleh kelelahan, kesedihan dan kekecewaan, dia berseru kepada Tuhan agar membebaskannya dan berdoa agar Tuhan mengambil nyawanya. Sendirian, Elia diingatkan kembali bahwa dia adalah orang yang berani dan kuat ketika dia berada dalam Tuhan dan kekuatan kuasaNya; namun jika hanya dengan dirinya sendiri, dia tidak lebih baik dari nenek moyangnya.

Ada saat-saat dimana kita merasa kuat dan luar biasa. Kita yakin bahwa kita dapat melakukan semuanya namun ketika sesuatu tiba-tiba menampar muka kita, kita mulai gemetar dan merasa lutut kita lemas. Kita tidak mau menghadapi situasi kita lagi, yang mau kita lakukan hanyalah melarikan diri dari situasi kita. Kita merasa sulit untuk focus kepada Tuhan dan percaya bahwa Dia sanggup untuk mencari jalan keluar bagi kita karena situasi kita kelihatannya tak ada harapan. Kita merasa kita telah mengecewakan Tuhan. Kadangkala kita merasa kita bergumul sendirian dan tak ada yang mengerti. Kita telah menciut dari orang yang kuat dan penuh keyakinan menjadi orang yang lemah dan tidak aman.

Ketika kita merasa lelah dengan segala sesuatu yang kita lakukan untuk Tuhan, kadang kala kesedihan dan keputusasaan masuk di dalam kita. Kita melakukan yang terbaik dan orang lain berbalik menentang atau memfitnah kita. Kita merasa menghadapi jalan buntu dan tidak ada kekuatan untuk maju lagi. Kita mau menghentikan pertahanan kita dan merasa tidak layak lagi. Sudah cukup dan kita hanya ingin duduk tanpa melakukan apapun. Kadangkala, kita ingin lari ke tempat yang jauh, dimana orang tidak mengenal kita dan kita tidak perlu mengambil berbagai keputusan. Bahkan kadangkala kita berpikir, “Lebih baik jika saya pulang dan bersama dengan Tuhan dan tidak ada urusan lagi dengan semua masalah dunia! Oh betapa indahnya jika saya bisa bebas dari urusan dunia, tuntutan hidup, penyakit, sakit hati dan ketidakadilan.”

Hentikan pemikiran yang seperti itu! Kalau anda terus berpikir begitu, pada akhirnya anda akan menyerah kepada situasi tersebut. Sebenarnya, anda tidak mencari Tuhan sebagaimana seharusnya dan akibatnya anda tidak mengijinkan Tuhan untuk melayani anda.

Perasaan Elia mempunyai sedikit persamaan dengan apa yang dirasakan Rasul Paulus di Perjanjian Baru saat dia berada di dalam penjara. Paulus menuliskan surat kepada orang-orang percaya di Filipi dan mengatakan bahwa ia merasa sangat tertekan dan memiliki “keinginan untuk dipisahkan dan hanya bersama Kristus” (Fiipi 1:23). Namun Paulus melanjutkan tulisannya bahwa lebih diperlukan oleh orang-orang percaya di Filipi jika dia tetap hidup. Paulus tahu bahwa Tuhan mempunyai rencana baginya untuk tetap hidup, untuk dia berada dalam penjara dan menghadapi ketidak-adilan. Kenyataannya, dia berkata bahwa apa yang dia alami sebenarnya diputarbalikkan bagi perkembangan Injil.

Meskipun hidup bersama Tuhan merupakan ide yang baik sebagai jalan keluar dari masalah-masalah kita, Tuhan tahu kapan kita harus meninggalkan kehidupan ini. Tuhan memakai kita, Dia memiliki tujuan bagi hidup kita dan kita harus percaya bahwa Dia tetap melakukan segala sesuatu yang terbaik bagi kita untuk kemuliaan namaNya. Tuhan tahu untuk apa kita diciptakanNya dan dalam bentuk apakah kita akan melayaniNya, permasalahan yang harus kita tanggung dan Dia akan memelihara dan bagi kita telah disiapkan anugerah yang lebih dari cukup bagi kita (2 Corinthians 12:9).

Yakinlah akan hal ini: apapun yang kita hadapi, kita dapat dan seharusnya berlari ke tangan Bapa kita yang penuh kasih. Di dalam hadiratNya, kita sadar bahwa kita tidak dapat melakukan apapun dengan kekuatan kita sendiri, kita tidak dapat mengasihi dan mengampuni tanpaNya, kita tidak dapat melakukan pekerjaanNya tanpa kemampuan dan anugerahNya.

Paulus berkata bahwa ia belajar untuk puas dengan keadaan dimana dia berada (Filipi 4:11). Kita pun dapat belajar merasa puas dengan keadaan dimana kita berada. Kita masih bisa menikmati kebaikan Tuhan, kasih Tuhan, dipenuhi oleh sukacita dan damaiNya meskipun ada berbagai hal terjadi dalam kehidupan kita. Yesus berkata bahwa semua yang lelah dan terbeban dapat datang kepadaNya dan Dia akan memberikan ketenangan bagi jiwa mereka (Matius 11:28-29). Melalui kehidupan hamba-hambaNya yang besar, Nabi Elia dan Rasul Paulus, kita dapat belajar bahwa kita selalu dapat datang kepada Tuhan, bagaimanapun keadaan kita. Kedua orang ini mempunyai kelemahan-kelemahan namun mereka berlari kepada Tuhan. Tuhan mengetahui keterbatasan kita dan yang lebih penting lagi, Dia tidak pernah menolak kita. Adalah hak istimewa untuk kita dapat berseru kepada Tuhan setiap saat di dalam iman - siang maupun malam sebab Dia tidak pernah tertidur atau terlelap. Dia akan memberikan upah kepada mereka yang sungguh-sungguh mencari Dia (Ibrani 11:6).

1 Raja-raja 19:5 Sesudah itu ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu. Tetapi tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya: “Bangunlah, makanlah!”

Tuhan menangani Elia dengan penuh pengertian dan kasih. Tuhan mengijinkan Elia untuk tidur dan memberi Elia makanan. Tuhan juga akan menangani kita dengan cara yang sama karena Yesus dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa (Ibrani 4:15). Hanya di dalam Dia kita dapat menemukan damai sejahtera, peristirahatan, ketenangan dan kebebasan selagi kita membuka hati kepadaNya. Kita juga dapat bergantung kepada Tuhan untuk menjaga dan memelihara kita, melayani kita, mengarahkan kita, membenarkan kita, membangkitkan kita, meyakinkan kita dan memulihkan jiwa kita. Kta dapat bangkit dan berlari kembali di dalam perlombaan yang telah Tuhan persiapkan bagi kita. Berlarilah kepada Tuhan, berlari bersama Tuhan, sebab Dia mengandalkan kita!

Disiapkan Untuk Diutus Keluar

Kita menyadari bahwa kita memang perlu...

Pintu yang Mana Tuhan?

Dua pintu - Satu pilihan...

Menjadi Teladan Bagi Orang lain

Sehingga kamu telah menjadi teladan...

New Here

who we are..

News & Events

check what's going on..

                   

connect with Rev. Dr. Paul Sene

Latest Message